Monday, May 24, 2010

at your side

..tapi telah menempuh separuh jalan itu tidak sama dengan mengambil jalan yang salah.

At Your Side
when the daylight's gone. And you're on your own. And you need a friend. Just to be around.
I'll comfort you. I will take your hand. And i'll pull you through. I will understand.
And you know that.. I'll be at your side. There's no need to worry. Together we'll survive. Through the haste and hurry. I'll be at your side.
If life's standing still. And your soul's confused. And you cannot find. What road to choose.
If you make mistakes. You can't let me down. I will still believe. I will turn around..
And you know that, i'll be at your side. If you feel like you're alone. You've got somewhere to go. Cos i'm right there..


( The Corrs- At Your Side)


This song,for Ibu and Adik.. Mercusuar ku, yang tak goyah walau langit bergemuruh. Spektrum impian ku, yang pancarkan semangat bahwa masa depan itu tak akan pernah hilang.

keep on

Ada dua jenis filosof. Yang satu adalah orang yang mencari jawaban sendiri bagi pertanyaan-pertanyaan filosofis. Yang satunya lagi adalah orang yang menjadi ahli dalam sejarah filsafat tapi tidak menyusun filosofinya sendiri.
Segala sesuatu yang kamu lihat adalah bagian dari dunia di sekelilingmu, tapi bagaimana kamu melihatnya ditentukan oleh kacamata yang kamu pakai.
Pikiran meninggalkan jejaknya pada cara kita memahami dunia.

Hari kemarin, memberikan beberapa pelajaran tentang hubungan pada saya. Bagaimana hubungan begitu mudah menjadi tak menyenangkang bila tidak ada komunikasi dua arah yang baik. Seorang sahabat menangis terseguk-seguk, hatinya begitu hancur. Bukan harta atau cinta yang diratapi. Tapi harga diri yang dirajami. Sekeras apapun usaha para sahabatnya memberikan penghiburan, tak semudah mengedipkan mata melupakan perih yang dialami. Biarlah manusia menyakiti manusia yang lain, biarlah manusia merendahkan manusia yang lain. Manusiawi memiliki pengertian berbeda bagi tiap pribadi.
Yang terpenting, kita harus bisa membuktikan. Semua itu salah. Kita lebih berharga dari apa yang dipikirkan orang lain. Setiap dari kita adalah pribadi yang berbeda, pribadi yang unik. Tidak ada seorang pun yang seutuhnya seperti saya. Hal tersebut berlaku bagi tiap orang.
Jadi, bila seorang di sebrang sana hanya menganggap pencapain yang kamu capai sekedar karena tiupan angin saja. Dia salah besar. Kamu begitu berharga. Kamu lebih dari itu. Kamu sungguh berharga. Kamu akan lebih berharga tiap kali tersenyum dan bersemangat lagi setelah menangis..
Tegakkan kepalamu! Hanya para pecundang yang berjalan sambil merunduk.

selamat siang kekasih :)

Selamat siang para kekasih.. Yang adalah sahabat, rekan, orang tua, saudara dan musuh dalam kehidupan ini.
Sudahkah anda makan siang? Bila belum, lekaslah makan siang karena anda membutuhkan tenaga untuk berpikir dan mencerna maksud pesan kecil saya ini.
Ketika kita berpapasan dengan orang yang tidak dikenal, pernahkah anda berpikir apa beban terberat dalam hidupnya? Apa kesalahan yang telah dilakukannya? Dan kesalahan apa lagi yang akan dilakukannya? Saya peringatkan anda! Anda memiliki masalah yang sebelumnya pernah dialami orang lain juga. Tentu ada yang berhasil mampu mengatasi masalah tersebut, adapula yang gagal. Semua tergantung bagaimana anda menyikapi keadaan. Tetaplah bergairah pada kehidupan. Lakukan hal yang terpenting dilakukan. Fokus. Buat hidup anda berarti. Jangan biarkan hati anda merasa dingin, putus asa entah kesepian. Biarkan semesta mendukung kehendak positiv itu.
Setiap orang pernah merasa kecewa. Setiap orang pernah merasakan keadaan yang tidak nyaman. Sadarlah, anda tidak sendiri. Anda jangan terlalu percaya diri bahwa anda-lah satu-satunya orang paling menderita di dunia ini.
Yakinlah, kekecewaan selalu menjadi alinea baru untuk semangat yang lebih hebat. Percayalah, kekecewaan mengajari anda untuk mengucap syukur.
Kekecewaan mengingatkan anda, bahwa anda pernah bersukacita dan telah mensyukurinya.
Para kekasih, semuanya akan baik-baik saja. All is well. Everything will be fine. Everything gonna be allright..
Bersemangatlah, atur strategi, kenali potensi diri, buat hidupmu berarti!
Selamat siang para kekasih..


Hugs, Melita Kristin Meliala

be purple no hurtful

(hanya fiksi,biar menjadi mimpi..)


Pagi ini, aku bangun dengan di selimuti gelisah tentang kita. Ku coba mengeraskan hati, memusatkan cita hidup. Dan aku terlalu lemah pagi ini, sahabat. Kau tak seumur jagung melimpahiku dengan kasih, tapi begitu menyita risau ku pagi ini. Pernah dulu aku bercerita tentang masa lalu ku, hampir tiga lusin bulan ku lewati, tapi tak ada ku tangisi saat melangkah pergi dan memutuskan menyusuri sungai sepi dan melawan jalannya hati. Tidak juga sentuhan, apalagi ciuman yang buat aku begitu gelisah pagi ini. Hanya tatap hangat mu, itu saja sudah cukup buat aku biru. Tak ada yang lebih indah, selain bulan September. Tak ada yang lebih perih, selain bulan September. Kau peluk erat aku sorenya, kita diskusikan tentang kita malamnya, dan dini hari kita saling menguatkan untuk memilih melangkah sendiri. Apakah pernah kau bayangkan, aku begitu menikmati kicauan mu tentang pola makanku. Atau apakah pernah kau bayangkan, di saat aku berkata aku kuat, aku sangat rapuh walau sekedar menghadapi pagi di bulan September.

Kau limpahi kasih di hidupku yang sepi, bagai bayangan. Tanpa permisi, sudah ada di belakangku, memeluk ku saat lemah, menguatkan ku saat rapuh, dan menghilang begitu saja ketika cahaya datang. Jangan kwatirkan tentang betapa berbahayanya bagiku berjalan sendiri di keramaian, jangan kwatirkan lagi sayang…karena aku akan makin menangisi tentang kita. Walau aku memang sedang menangisi tentang kita, sepagi ini. Setidaknya kau tak tahu, sepagi ini aku telah mencoba melihat matahari, berharap hangatnya gantikan kenangan tentang hangat pelukanmu. Tapi, pagi ini bandung terlalu dingin, terlalu dingin menusuk kulitku yang kau kagumi, dan terlalu dingin tuk cegah mata ku memerah, terlalu dingin membuat hatiku makin menciut.

Aku tahu akan semakin nelangsa bila menyesali telah lengah mengenai hati, mengenai toleransi, mengenai logika. Kita begitu berbeda dalam berbagai hal, tapi satu dalam cinta. Jangan menangis lagi sahabat, jangan. Redam, redam! Berpaling, jangan lihat ke belakang lagi, akan semakin sakit. Sesakit bila kita terus jalan bersama dan berakhir dengan perpisahan pula. Seperih menerima genggaman tanganmu ketika aku tahu hal ini pasti akan terjadi.

Kadang aku menyesal dengan jalan pikiranku sendiri. Menyesal dengan pola pikirku. Andai saja aku ini masih kekanak-kanakan, kau pasti luluh bila aku merengek untuk keputusan kita tentang pisah. Tapi itu bukan aku, bukan aku, dan kau tahu itu. Kau tahu aku kuat. Dan aku masih menangis, sepagi ini.

Ingin sekali aku mengenang hal-hal yang tidak membuatku biru sepagi ini. Mengenang dingin yang buat kau melirik ku. Mengenang hal-hal bodoh yang kau lakukan. Mengenang kau pernah menatapku tertidur, kedinginan, meringkuk. Mengenang genggaman pertama kita. Mengenang sigapnya kau menyambut kedatanganku tiap pertemuan kita. Mengenang peluk mu, mengenang belaian kasih di kepalaku. Mengenang , kau memaksa diri tak tertidur di malam-malam beratku. Mengenang cara berpikirmu. Mengenang senyummu. Perih sayang..

Tadinya kupikir, kau tak seberharga ini. Kupikir kau hanya hal sejenak yang akan segera berlalu dengan sendirinya. Tadinya sahabat, tadinya…harusnya kita tak bermain dengan hati, ya kan? Harusnya kita jangan bermain dengan Dia Yang Mencipta. Tolol kita sayang, merasa bisa menghadapi ini, tolol kita! Melawan arus terasa sangat sulit, sahabat? Jangan pegang tanganku bila kau mulai terbawa perasaan, jangan genggam, jangan lagi…cari ranting, cari motivasi lain. Jangan aku.

Darimana datangnya cinta, siapa yang mencipta cinta. Apakah Dia yang sama ku puja-puji di hari minggu dan dia yang kau sembah-sujud lima kali sehari. Kita tidak tahu, dan terlalu hina untuk mencari tahu. Kau tahu sahabat, mungkin Dia-lah yang mencipta cinta, tapi bukan kita yang dituju. Kita ini hanya bulir-bulir debu yang mencoba mengerti tentang semesta. Dan aku benci kata semesta, mengingatkan ku pada diagram Venn, mengingatkan ku pada matematika yang tak sulit ku taklukan. Mengingatkan ku pada betapa kecilnya aku, betapa tak berartinya aku memilih cerita hidupku sendiri. Mengingatkan ku pada akal pikiran, sesuatu hal yang ku pastikan ada. Karena aku berpikir, maka aku ada, seperti kata Descartes.

Aku tak sekuat yang aku bayangkan. Kita harus kuat, harus mas…