Monday, May 24, 2010

be purple no hurtful

(hanya fiksi,biar menjadi mimpi..)


Pagi ini, aku bangun dengan di selimuti gelisah tentang kita. Ku coba mengeraskan hati, memusatkan cita hidup. Dan aku terlalu lemah pagi ini, sahabat. Kau tak seumur jagung melimpahiku dengan kasih, tapi begitu menyita risau ku pagi ini. Pernah dulu aku bercerita tentang masa lalu ku, hampir tiga lusin bulan ku lewati, tapi tak ada ku tangisi saat melangkah pergi dan memutuskan menyusuri sungai sepi dan melawan jalannya hati. Tidak juga sentuhan, apalagi ciuman yang buat aku begitu gelisah pagi ini. Hanya tatap hangat mu, itu saja sudah cukup buat aku biru. Tak ada yang lebih indah, selain bulan September. Tak ada yang lebih perih, selain bulan September. Kau peluk erat aku sorenya, kita diskusikan tentang kita malamnya, dan dini hari kita saling menguatkan untuk memilih melangkah sendiri. Apakah pernah kau bayangkan, aku begitu menikmati kicauan mu tentang pola makanku. Atau apakah pernah kau bayangkan, di saat aku berkata aku kuat, aku sangat rapuh walau sekedar menghadapi pagi di bulan September.

Kau limpahi kasih di hidupku yang sepi, bagai bayangan. Tanpa permisi, sudah ada di belakangku, memeluk ku saat lemah, menguatkan ku saat rapuh, dan menghilang begitu saja ketika cahaya datang. Jangan kwatirkan tentang betapa berbahayanya bagiku berjalan sendiri di keramaian, jangan kwatirkan lagi sayang…karena aku akan makin menangisi tentang kita. Walau aku memang sedang menangisi tentang kita, sepagi ini. Setidaknya kau tak tahu, sepagi ini aku telah mencoba melihat matahari, berharap hangatnya gantikan kenangan tentang hangat pelukanmu. Tapi, pagi ini bandung terlalu dingin, terlalu dingin menusuk kulitku yang kau kagumi, dan terlalu dingin tuk cegah mata ku memerah, terlalu dingin membuat hatiku makin menciut.

Aku tahu akan semakin nelangsa bila menyesali telah lengah mengenai hati, mengenai toleransi, mengenai logika. Kita begitu berbeda dalam berbagai hal, tapi satu dalam cinta. Jangan menangis lagi sahabat, jangan. Redam, redam! Berpaling, jangan lihat ke belakang lagi, akan semakin sakit. Sesakit bila kita terus jalan bersama dan berakhir dengan perpisahan pula. Seperih menerima genggaman tanganmu ketika aku tahu hal ini pasti akan terjadi.

Kadang aku menyesal dengan jalan pikiranku sendiri. Menyesal dengan pola pikirku. Andai saja aku ini masih kekanak-kanakan, kau pasti luluh bila aku merengek untuk keputusan kita tentang pisah. Tapi itu bukan aku, bukan aku, dan kau tahu itu. Kau tahu aku kuat. Dan aku masih menangis, sepagi ini.

Ingin sekali aku mengenang hal-hal yang tidak membuatku biru sepagi ini. Mengenang dingin yang buat kau melirik ku. Mengenang hal-hal bodoh yang kau lakukan. Mengenang kau pernah menatapku tertidur, kedinginan, meringkuk. Mengenang genggaman pertama kita. Mengenang sigapnya kau menyambut kedatanganku tiap pertemuan kita. Mengenang peluk mu, mengenang belaian kasih di kepalaku. Mengenang , kau memaksa diri tak tertidur di malam-malam beratku. Mengenang cara berpikirmu. Mengenang senyummu. Perih sayang..

Tadinya kupikir, kau tak seberharga ini. Kupikir kau hanya hal sejenak yang akan segera berlalu dengan sendirinya. Tadinya sahabat, tadinya…harusnya kita tak bermain dengan hati, ya kan? Harusnya kita jangan bermain dengan Dia Yang Mencipta. Tolol kita sayang, merasa bisa menghadapi ini, tolol kita! Melawan arus terasa sangat sulit, sahabat? Jangan pegang tanganku bila kau mulai terbawa perasaan, jangan genggam, jangan lagi…cari ranting, cari motivasi lain. Jangan aku.

Darimana datangnya cinta, siapa yang mencipta cinta. Apakah Dia yang sama ku puja-puji di hari minggu dan dia yang kau sembah-sujud lima kali sehari. Kita tidak tahu, dan terlalu hina untuk mencari tahu. Kau tahu sahabat, mungkin Dia-lah yang mencipta cinta, tapi bukan kita yang dituju. Kita ini hanya bulir-bulir debu yang mencoba mengerti tentang semesta. Dan aku benci kata semesta, mengingatkan ku pada diagram Venn, mengingatkan ku pada matematika yang tak sulit ku taklukan. Mengingatkan ku pada betapa kecilnya aku, betapa tak berartinya aku memilih cerita hidupku sendiri. Mengingatkan ku pada akal pikiran, sesuatu hal yang ku pastikan ada. Karena aku berpikir, maka aku ada, seperti kata Descartes.

Aku tak sekuat yang aku bayangkan. Kita harus kuat, harus mas…

No comments: