Tuesday, February 23, 2010

Minggu Pagi Di Kota Priangan


Minggu pagi di kota Priangan, matahari memancarkan sinar hangat.

Angin berhembus semilir, membelai dahan pohon yang kuyup. Hujan tadi malam tak begitu deras, namun mampu membahasahi bumi sangkuriang ini merata. Telah sekian lama aku tidak pernah melihat bintang, gemerlap genit di malam yang pekat. Setelah sekian lama, aku mulai membayangkan, mereka-reka. Bagaimana sakitnya hatimu saat dengan suara penuh, kubilang mau pergi. Tiga lusin bulan yang kita lewati bersama. Berpuluh loyang pizza yang kita habiskan bersama, beribu genggam erat yang kita miliki bersama, dan berjuta senyum yang kita bagi bersama. Terlupakan begitu saja. Bukan karena bosan denganmu, atau ada yang menggantikanmu. Dulu keputusan ku bulat, begitu bulat, karena aku ini petualang. Mungkin kau lupa, aku ini petualang, yang semakin kau kekang semkain ingin berkelana. Bukan berkelana untuk melupakanmu, hanya haus dengan gempita warna-warni dunia. Andai saja dulu kau merelakanku sejenak berpetualang, tentu ini tak akan terjadi. Aku tidak menyesal dengan perpisahan kita, aku pun tidak menyesal dengan apa yang telah kita lalui. Aku hanya mengingatmu sejenak. Karena kini, aku tak sendiri lagi. Dia yang sekarang dapat merelakan ku berpetualang, dan menunggu ku dengan cinta yang tak berkurang. Dia seperti ayah yang dulu pernah hilang dalam kenanganku. Aku bahagia dengannya, dan ku harap kau tak terluka akan hal itu.

No comments: