Tuesday, February 23, 2010

fever is quiver


Menjadi seorang perempuan adalah tujuan dari pencapaian hidup saya. Sama halnya dengan membahagiakan ibu, entah menuntun adik menjadi lelaki dewasa bertanggungjawab kelak. Satu hal yang saya takutkan dari beberapa hal yang membuat saya takut adalah mengecewakan orang-orang yang saya sayangi. Orang-orang yang sekuat hati saya peluk. Orang-orang yang bisa membuat saya menangis tanpa alasan. Selama dua puluh satu tahun saya begitu bebas bernafas, tapi masih tersendat-sendat bertindak. Terlalu banyak pertimbangan. Setiap keputusan kadang diselubungi keraguan. Dan sekarang saya sadar. Keraguan adalah awal sebuah pengetahuan baru. Keraguan membuat saya berusaha lebih keras lagi mencari titik ragu. Membuat saya mencerai-beraikan setiap permasalahan, menjadi bagian-bagian yang terkecil, semakin kecil, menjadi serpihan, menjadi debu. Pengetahuan adalah apa yang saya yakini ada dan saya sadari tak dapat saya sentuh. Sama halnya dengan pikiran. Apa yang sedang saya pikirkan ketika suhu badan tinggi begini? Apa yang sedang saya tangisi dengan suhu tinggi begini? Tidak dapat saya perlihatkan. Karena pikiran sama halnya dengan pengetahuan. Saya tahu apa yang sedang saya pikirkan, dan saya tidak pernah juga menyentuh pikiran itu. Bagaimana rupa pikiran ketika saya sedang menangis? Bagaimana warna pikiran ketika saya sedang tertawa? Jangan Tanya saya. Saya pun tidak tahu. Sama halnya dengan kamu tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu jika saya sedang bertanya-tanya. Bertanya-tanya tentang segala hal. Meragukan segala hal. Memecah-mecah seribu hal menjadi serpihan, menjadi debu.

Saya ingin menyimpulkan, bahwa perempuan harus berfikir jernih agar tahu apa yang benar-benar ia butuhkan, biar tidak terperangkap pada apa yang ia inginkan. Tapi siapa saya ini, begitu berani menyimpulkan sesuatu. Pujangga bukan. Filsuf bukan. Saya hanya seorang perempuan yang duduk di kamarnya, tergesa-gesa mengetik ketika suhu tubuhnya semakin tinggi.

Ingin rasanya tidur, tidur, dan tertidur. Dan terbangun ketika didalam tidak terasa begitu sekosong ini. Saya terlalu kompleks untuk dimengerti. Jangan Tanya kenapa saya merasa kosong, karena sungguh, saya pun tidak tahu. Semua begitu terasa datang tiba-tiba, menguasai hati, mengendalikan emosi. Seperti saya yang lain sedang mengambil alih kemudi diri.

Atau saya ini sedang bermimpi. Bermimpi sedang bersuhu tubuh tinggi. Bermimpi sedang merasa kosong. Bermimpi sedang menangis tanpa sebab. Atau sebelumnya saya bermimpi tersenyum senang. Bermimpi tidak sabar segera kau peluk. Bermimpi duduk manis mencemaskan hari itu tiba. Mungkin juga saya sedang dipermainkan pikiran, membuat saya bingung. Mana yang sebenarnya nyata. Mana yang hanya mimpi. Karena keduanya begitu terasa sama, begitu terasa nyata, begitu terasa kosong seperti mimpi. Kurang ajar sekali pikiran ini, tega mempermainkan saya hingga bergetar, terguncang begini.

Bandung, 26/09/09. Saturday, 3: 53 PM.

No comments: