Wednesday, February 24, 2010

Ada Layang-layang Tersangkut Di Dahan


Ada layang-layang tersangkut di dahan. Kelu tanpa daya. Angin mendesah di sekitarnya. Menabur aroma tanah. Sepi. Matahari begitu terik menyilaukan mata. Seakan hendak mencumbui bumi dengan membabi-buta. Dedaunan hijau saling menggesekkan diri. Bergemerisik. Kesana-kemari. Dedaunan yang menguning, beralun lemah. Hendak gugur meretakkan hati, tetap bertahan tak beruna juga. Kejayaannya hilang, hijaunya pergi, turut serta dengan cita mulia pada kehidupan. Tak ada yang bisa menolak kehidupan. Begitu juga kematian, sama halnya dengan datang dan pergi. Gelap dan terang. Cinta dan perih. Siang dan malam. Tawa dan tangis. Pelukanmu dan sepi. Semuanya tercipta berpasangan. Dia yang Mencipta melihat hal itu baik adanya. Terciptalah. Tanpa ada kehendak mahluk untuk memilih. Nikmati saja. Maknai saja. Jangan terlalu banyak merengek dan mengeluh. Itulah hidup. Teruslah bergerak, selagi ada kesempatan. Dan waktu.

Ada layang-layang tersangkut di dahan. Bergoyang-goyang kesana-kemari. Berusaha melepaskan diri. Hanya pelukan erat ranting pula yang di dapat. Matahari tak semegah tadi. Mulai lembayung. Berpijar keemasan. Seperti koin emas di negeri seribu satu malam. Makin mesra menatap bumi dengan mata jingga yang bulat penuh. Matahari selalu lebih setia dibanding bulan. Tak pernah menghilang atau beristirahat menjaga bumi agar tetap hangat. Selalu tulus. Seperti senyummu.

Ada layang-layang tersangkut di dahan. Bocah kecil bermata sipit mencibir cemas. Mengumpulkan keberanian. Mengatur strategi. Memanjat pohon dengan liar. Mencari galah tuk meraih. Terus mengawasi. Barangkali ranting-ranting itu bosan memeluk. Dan melepasnya pergi. Entah desiran angin sore sedang berbaik hati. Merayu dahan, dan menggoda ranting. Tidak terlalu berharap banyak. Jangan pernah berharap banyak pada bukan dirimu sendiri. Masih mengawasi dengan mata sipit dan hati yang gelisah. Layang-layang berwarna merah. Bersalur hitam. Bergerak-gerak di senggol burung nakal. Semakin pasrah pada kehidupan. Belum lagi lolos dari pelukan ranting kering tak berbuah. Harus pula memikirkan jadi apa diri ini di tangan bocah bermata sipit. Entah hujan akan menghujam bumi dengan benang perak yang tajam, dan layang-layang usai terkoyak di gelapnya malam. Tanpa di damba bocah bermata sipit. Di pelukan ranting kering yang tak pernah berbuah. Tak ada yang lebih indah, selain di kagumi. Seperti lirikmu mengagumi ku.

Ada layang-layang tersangkut di dahan. Di kagumi bocah bermata sipit. Di tinggalkan burung nakal yang kembali ke sarangnya. Di belai angin malam. Maksud hati ingin menggarungi langit. Menyaksikan padi menguning. Bertegur-sapa dengan awan. Awan yang mengembang seperti gulali. Manis. Merasa semakin dekat dengan matahari. Bertengger di cakrawala biru. Melihat kehidupan dari atas. Semakin dekat dengan Dia Yang di Atas. Jika memang benar Dia ada di Atas. Apa daya. Sekuat hati melayang, tersangkut juga. Berbesar hati. Hanya sia-sia. Bagaimana memaknai hidup. Bagaimana menikmati cinta. Bila yang di dapat selalu tawa. Putus asa dan terjebak, adalah kunci untuk menikmati tawa. Untuk tegar dalam perih. Biarkan hati mencari jawabnya sendiri. Terlalu keras pada diri. Terkadang ada baiknya juga. Toh tak ada yang bisa memastikan hari ini perih entah esok pelukan hangat. Bahkan sekarang lemah, nanti putus asa yang di dapat. Tak ada yang bisa memilih rasa. Yang ada hanya bagaimana memaknai rasa. Biar dingin yang didapat, jangan pernah berhenti berharap untuk kehangatan. Jangan pernah berhenti, selama Dia masih memberi waktu.

Ada layang-layang tersangkut di dahan. Dilupakan bocah bermata sipit. Dirundung malam yang pekat. Berharap masih punya waktu, memaknai esok pagi. Ketika matahari masih memiliki kesempatan mencintai bumi tanpa berharap disadari bumi. Selagi masih ada waktu dan kehidupan tak setega biasanya.

Bandung, 17 September 2009

No comments: